Selasa, 11 April 2017

388casino-Mertuaku Memang Pejantan Tangguh

Mertuaku Memang Pejantan Tangguh

 Related image                                                    Image result for wanita sexy lagi tidur
Namaku Novianti. Usiaku telah menginjak kepala tiga. Sudah menikah setahun lebih dan baru mempunyai seorang bayi laki-laki. Suamiku berusia hanya lebih tua satu tahun dariku. Kehidupan kami dapat dikatakan sangat bahagia. Memang kami berdua kawin dalam umur agak terlambat sudah diatas 30 tahun. Selewat 40 hari dari melahirkan, suamiku masih takut untuk berhubungan seks. Mungkin dia masih teringat pada waktu aku menjerit jerit pada saat melahirkan, memang dia juga turut masuk ke ruang persalinan mendampingi saya waktu melahirkan.

388Casino
Di samping itu aku memang juga sibuk benar dengan si kecil, baik siang maupun malam hari. Si kecil sering bangun malam-malam, nangis dan aku harus menyusuinya sampai dia tidur kembali. Sementara suamiku semakin sibuk saja di kantor, maklum dia bekerja di sebuah kantor Bank Pemerintah di bagian Teknologi, jadi pulangnya sering terlambat. Keadaan ini berlangsung dari hari ke hari, hingga suatu saat terjadi hal baru yang mewarnai kehidupan kami, khususnya kehidupan pribadiku sendiri.

Ketika itu kami mendapat kabar bahwa ayah mertuaku yang berada di Amerika bermaksud datang ke tempat kami. Memang selama ini kedua mertuaku tinggal di Amerika bersama dengan anak perempuan mereka yang menikah dengan orang sana. Dia datang kali ini ke Indonesia sendiri untuk menyelesaikan sesuatu urusan. Ibu mertua nggak bisa ikut karena katanya kakinya sakit. Ketika sampai waktu kedatangannya, kami menjemput di airport, suamiku langsung mencari-cari ayahnya.

388Casino
Suamiku langsung berteriak gembira ketika menemukan sosok seorang pria yang tengah duduk sendiri di ruang tunggu. Orang itu langsung berdiri dan menghampiri kami. Ia lalu berpelukan dengan suamiku. Saling melepas rindu. Aku memperhatikan mereka. Ayah mertuaku masih nampak muda diumurnya menjelang akhir 50-an, meski kulihat ada beberapa helai uban di rambutnya. Tubuhnya yang tinggi besar, dengan kulit gelap masih tegap dan berotot.
Kelihatannya ia tidak pernah meninggalkan kebiasaannya berolah raga sejak dulu. Beliau berasal dari belahan Indonesia Timur dan sebelum pensiun ayah mertua adalah seorang perwira angkatan darat. “Hei nak Novi. Apa khabar…!”, sapa ayah mertua padaku ketika selesai berpelukan dengan suamiku.
“Ayah, apa kabar?
Sehat-sehat saja kan?
Bagaimana keadaan Ibu di Amerika..?
” balasku. “Oh…Ibu baik-baik saja.
Beliau nggak bisa ikut, karena kakinya agak sakit, mungkin keseleo….”
“Ayo kita ke rumah”,
kata suamiku kemudian.
Sejak adanya ayah di rumah, ada perubahan yang cukup berarti dalam kehidupan kami. Sekarang suasana di rumah lebih hangat, penuh canda dan gelak tawa. Ayah mertuaku orangnya memang pandai membawa diri, pandai mengambil hati orang. Dengan adanya ayah mertua, suamiku jadi lebih betah di rumah. Ngobrol bersama, jalan-jalan bersama. Akan tetapi pada hari-hari tertentu, tetap saja pekerjaan kantornya menyita waktunya sampai malam, sehingga dia baru sampai kerumah di atas jam 10 malam. Hal ini biasanya pada hari-hari Senin setiap minggu. Sampai terjadilah peristiwa ini pada hari Senin ketiga sejak kedatangan ayah mertua dari Amerika. Sore itu aku habis senam seperti biasanya. Memang sejak sebulan setelah melahirkan, aku mulai giat lagi bersenam kembali, karena memang sebelum hamil aku termasuk salah seorang yang amat giat melakukan senam dan itu biasanya kulakukan pada sore hari. Setelah merasa cukup kuat lagi, sekarang aku mulai bersenam lagi, disamping untuk melemaskan tubuh, juga kuharapkan tubuhku bisa cepat kembali ke bentuk semula yang langsing, karena memang postur tubuhku termasuk tinggi kurus akan tetapi padat. Setelah mandi aku langsung makan dan kemudian meneteki si kecil di kamar. 

Bacarrat
Mungkin karena badan terasa penat dan pegal sehabis senam, aku jadi mengantuk dan setelah si kecil kenyang dan tidur, aku menidurkan si kecil di box tempat tidurnya. Kemudian aku berbaring di tempat tidur. Saking sudah sangat mengantuk, tanpa terasa aku langsung tertidur. Bahkan aku pun lupa mengunci pintu kamar. Setengah bermimpi, aku merasakan tubuhku begitu nyaman. Rasa penat dan pegal-pegal tadi seperti berangsur hilang… Bahkan aku merasakan tubuhku bereaksi aneh.

Rasa nyaman sedikit demi sedikit berubah menjadi sesuatu yang membuatku melayang-layang. Aku seperti dibuai oleh hembusan angin semilir yang menerpa bagian-bagian peka di tubuhku.
Tanpa sadar aku menggeliat merasakan semua ini sambil melenguh perlahan. Dalam tidurku, aku bermimpi suamiku sedang membelai-belai tubuhku dan kerena memang telah cukup lama kami tidak berhubungan badan, sejak kandunganku berumur 8 bulan, yang berarti sudah hampir 3 bulan lamanya, maka terasa suamiku sangat agresif menjelajahi bagian-bagian sensitif dari sudut tubuhku. Tiba-tiba aku sadar dari tidurku… tapi kayaknya mimpiku masih terus berlanjut. Malah belaian, sentuhan serta remasan suamiku ke tubuhku makin terasa nyata.

Image result for wanita dan pria sexy

Kemudian aku mengira ini perbuatan suamiku yang telah kembali dari kantor. Ketika aku membuka mataku, terlihat cahaya terang masih memancar masuk dari lobang angin dikamarku, yang berarti hari masih sore. Lagian ini kan hari Senin, seharusnya dia baru pulang agak malam, jadi siapa ini yang sedang mencumbuku… Aku segera terbangun dan membuka mataku lebar-lebar.
Hampir saja aku menjerit sekuat tenaga begitu melihat orang yang sedang menggeluti tubuhku.
Ternyata… dia adalah mertuaku sendiri. Melihat aku terbangun, mertuaku sambil tersenyum, terus saja melanjutkan kegiatannya menciumi betisku. Sementara dasterku sudah terangkat tinggi-tinggi hingga memperlihatkan seluruh pahaku yang putih mulus.
“Yah…!! Stop….jangan…. Yaaahhhh…!!?
” jeritku dengan suara tertahan karena takut terdengar oleh Si Inah pembantuku.
“Nov, maafkan Bapak…. Kamu jangan marah seperti itu dong, sayang….!!”
 Ia malah berkata seperti itu, bukannya malu didamprat olehku. “Ayah nggak boleh begitu, cepat keluar, saya mohon….!!”,
 pintaku menghiba, karena kulihat tatapan mata mertuaku demikian liar sambil tangannya tak berhenti menggerayang ke sekujur tubuhku.

Aku mencoba menggeliat bangun dan buru-buru menurunkan daster untuk menutupi pahaku dan beringsut-ingsut menjauhinya dan mepet ke ujung ranjang. Akan tetapi mertuaku makin mendesak maju menghampiriku dan duduk persis di sampingku. Tubuhnya mepet kepadaku. Aku semakin ketakutan. “Nov… Kamu nggak kasihan melihat Bapak seperti ini? Ayolah, Bapak kan sudah lama merindukan untuk bisa menikmati badan Novi yang langsing padat ini….!!!!”,

desaknya. “Jangan berbicara begitu. Ingat Yah… aku kan menantumu…. istri Toni anakmu?”,
jawabku mencoba menyadarinya. “Jangan menyebut-nyebut si Toni saat ini, Bapak tahu Toni belum lagi menggauli nak Novi, sejak nak Novi habis melahirkan… Benar-benar keterlaluan tu anak….!!, lanjutnya. Rupanya entah dengan cara bagaimana dia bisa memancing hubungan kita suami istri dari Toni. Ooooh…. benar-benar bodoh si Toni, batinku, nggak tahu kelakuan Bapaknya. Mertuaku sambil terus mendesakku berkata bahwa ia telah berhubungan dengan banyak wanita lain selain ibu mertua dan dia tak pernah mendapatkan wanita yang mempunyai tubuh yang semenarik seperti tubuhku ini. Aku setengah tak percaya mendengar omongannya. Ia hanya mencoba merayuku dengan rayuan murahan dan menganggap aku akan merasa tersanjung. Aku mencoba menghindar… tapi sudah tidak ada lagi ruang gerak bagiku di sudut tempat tidur. Ketika kutatap wajahnya, aku melihat mimik mukanya yang nampaknya makin hitam karena telah dipenuhi nafsu birahi. Aku mulai berpikir bagaimana caranya untuk menurunkan hasrat birahi mertuaku yang kelihatan sudah menggebu-gebu. Melihat caranya, aku sadar mertuaku akan berbuat apa pun agar maksudnya kesampaian. Kemudian terlintas dalam pikiranku untuk mengocok kemaluannya saja, sehingga nafsunya bisa tersalurkan tanpa harus memperkosa aku. Akhirnya dengan hati-hati kutawarkan hal itu kepadanya. 

Image result for wanita dan pria sexy

“Yahh… biar Novi mengocok Ayah saja ya… karena Novi nggak mau ayah menyetubuhi Novi… Gimana…?” Mertuaku diam dan tampak berpikir sejenak. Raut mukanya kelihatan sedikit kecewa namun bercampur sedikit lega karena aku masih mau bernegosiasi. “Baiklah..”, kata mertuaku seakan tidak punya pilihan lain karena aku ngotot tak akan memberikan apa yang dimintanya. Mungkin inilah kesalahanku. Aku terlalu yakin bahwa jalan keluar ini akan meredam keganasannya. Kupikir biasanya lelaki kalau sudah tersalurkan pasti akan surut nafsunya untuk kemudian tertidur. Aku lalu menarik celana pendeknya. Ugh! Sialan, ternyata dia sudah tidak memakai celana dalam lagi. Begitu celananya kutarik, batangnya langsung melonjak berdiri seperti ada pernya. Aku sangat kaget dan terkesima melihat batang kemaluan mertuaku itu…. Oooohhhh…… benar-benar panjang dan besar. Jauh lebih besar daripada punya Toni suamiku. Mana hitam lagi, dengan kepalanya yang mengkilap bulat besar sangat tegang berdiri dengan gagah perkasa, padahal usianya sudah tidak muda lagi. Tanganku bergerak canggung. Bagaimananpun baru kali ini aku memegang ****** orang selain milik suamiku, mana sangat besar lagi sehingga hampir tak bisa muat dalam tanganku. Perlahan-lahan tanganku menggenggam batangnya. Kudengar lenguhan nikmat keluar dari mulutnya seraya menyebut namaku.
Image result for wanita hot lagi tidur“Ooooohhh…..sssshhhh…..Nov iii…eee..eeena aak. .. betulll..!!!” Aku mendongak melirik kepadanya. Nampak wajah mertuaku meringis menahan remasan lembut tanganku pada batangnya. Aku mulai bergerak turun naik menyusuri batangnya yang besar panjang dan teramat keras itu. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap moncongnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari liangnya. Kudengar mertuaku kembali melenguh merasakan ngilu akibat usapanku. Aku tahu dia sudah sangat bernafsu sekali dan mungkin dalam beberapa kali kocokan ia akan menyemburkan air maninya. Sebentar lagi tentu akan segera selesai sudah, pikirku mulai tenang. Dua menit, tiga… sampai lima menit berikutnya mertuaku masih bertahan meski kocokanku sudah semakin cepat. Kurasakan tangan mertuaku menggerayangi ke arah dadaku. Aku kembali mengingatkan agar jangan berbuat macam-macam. “Nggak apa-apa …..biar cepet keluar..”, kata mertuaku memberi alasan. Aku tidak mengiyakan dan juga tidak menepisnya karena kupikir ada benarnya juga. Biar cepat selesai, kataku dalam hati. Mertuaku tersenyum melihatku tidak melarangnya lagi. Ia dengan lembut dan hati-hati mulai meremas-remas kedua payudara di balik dasterku. Aku memang tidak mengenakan kutang kerena habis menyusui si kecil tadi. Jadi remasan tangan mertua langsung terasa karena kain daster itu sangat tipis. Sebagai wanita normal, aku merasakan kenikmatan juga atas remasan ini. Apalagi tanganku masih menggenggam batangnya dengan erat, setidaknya aku mulai terpengaruh oleh keadaan ini. Meski dalam hati aku sudah bertekad untuk menahan diri dan melakukan semua ini demi kebaikan diriku juga. Karena tentunya setelah ini selesai dia tidak akan berbuat lebih jauh lagi padaku.

 Related image

Bacarrat

“Novi sayang.., buka ya? Sedikit aja..”, pinta mertuaku kemudian. “Jangan Yah. Tadi kan sudah janji nggak akan macam-macam..”, ujarku mengingatkan. “Sedikit aja. Ya?” desaknya lagi seraya menggeser tali daster dari pundakku sehingga bagian atas tubuhku terbuka. Aku jadi gamang dan serba salah. Sementara bagian dada hingga ke pinggang sudah telanjang. Nafas mertuaku semakin memburu kencang melihatku setengah telanjang. “Oh.., Novii kamu benar-benar cantik sekali….!!!”, pujinya sambil memilin-milin dengan hati-hati puting susuku, yang mulai basah dengan air susu. Aku terperangah. Situasi sudah mulai mengarah pada hal yang tidak kuinginkan. Aku harus bertindak cepat. Tanpa pikir panjang, langsung kumasukkan batang kemaluan mertuaku ke dalam mulutku dan mengulumnya sebisa mungkin agar ia cepat-cepat selesai dan tidak berlanjut lebih jauh lagi. 

aku sudah tidak mempedulikan perbuatan mertuaku pada tubuhku. Aku biarkan tangannya dengan leluasa menggerayang ke sekujur tubuhku, bahkan ketika kurasakan tangannya mulai mengelus-elus bagian kemaluanku pun aku tak berusaha mencegahnya. Aku lebih berkonsentrasi untuk segera menyelesaikan semua ini secepatnya. Jilatan dan kulumanku pada batang kontolnya semakin mengganas sampai-sampai mertuaku terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku. Aku tambah bersemangat dan semakin yakin dengan kemampuanku untuk membuatnya segera selesai. Keyakinanku ini ternyata berakibat fatal bagiku. Sudah hampir setengah jam, aku belum melihat tanda-tanda apapun dari mertuaku. Aku jadi penasaran, sekaligus merasa tertantang. Suamiku pun yang sudah terbiasa denganku, bila sudah kukeluarkan kemampuan seperti ini pasti takkan bertahan lama. Tapi kenapa dengan mertuaku ini? Apa ia memakai obat kuat? Saking penasarannya, aku jadi kurang memperhatikan perbuatan mertuaku padaku. Entah sejak kapan daster tidurku sudah terlepas dari tubuhku.

Aku baru sadar ketika mertuaku berusaha menarik celana dalamku dan itu pun terlambat! Begitu menengok ke bawah, celana itu baru saja terlepas dari ujung kakiku. Aku sudah telanjang bulat! Ya ampun, kenapa kubiarkan semua ini terjadi. Aku menyesal kenapa memulainya. 

Ternyata kejadiannya tidak seperti yang kurencanakan. Aku terlalu sombong dengan keyakinanku. Kini semuanya sudah terlambat. Berantakan semuanya! Pekikku dalam hati penuh penyesalan.

Situasi semakin tak terkendali. Lagi-lagi aku kecolongan. Mertuaku dengan lihainya dan tanpa kusadari sudah membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Tak lama kemudian kurasakan sentuhan lembut di seputar selangkanganku. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Suka tidak suka, mau tidak mau, kurasakan kenikmatan cumbuan mertuaku di sekitar itu. Akh luar biasa! Aku menjerit dalam hati sambil menyesali diri. Aku marah pada diriku sendiri, terutama pada tubuhku sendiri yang sudah tidak mau mengikuti perintah pikiran sehatku.  Image result for wanita hot lagi tidur

Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidah mertuaku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajah itu ke dalam selangkanganku. Kuakui ia memang pandai membuat birahiku memuncak. Kini aku sudah lupa dengan siasat semula. Aku sudah terbawa arus. Aku malah ingin mengimbangi permainannya. Mulutku bermain dengan lincah. 

Batangnya kukempit dengan buah dadaku yang membusung penuh dan kenyal. Maklum, masih menyusui. Sementara ****** itu bergerak di antara buah dadaku, mulutku tak pernah lepas mengulumnya. Tanpa kusadari kami saling mencumbu bagian vital masing-masing selama lima belas menit. Aku semakin yakin kalau mertuaku memakai obat kuat. Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar, sementara aku sudah mulai merasakan desiran-desiran kuat bergerak cepat ke arah pusat kewanitaanku. 

Jilatan dan hisapan mulut mertuaku benar-benar membuatku tak berdaya. Aku semakin tak terkendali. Pinggulku meliuk-liuk liar. Tubuhku mengejang, seluruh aliran darah serasa terhenti dan aku tak kuasa untuk menahan desakan kuat gelombang lahar panas yang mengalir begitu cepat. “Oooohhhhh…….aaaa….aaaaa ……aaauugghhh hhhh hh..!!!!!” aku menjerit lirih begitu aliran itu mendobrak pertahananku. Kurasakan cairan kewanitaanku menyembur tak tertahankan. 

Tubuhku menggelepar seperti ikan terlempar ke darat merasakan kenikmatan ini. Aku terkulai lemas sementara batang ****** mertuaku masih berada dalam genggamanku dan masih mengacung dengan gagahnya, bahkan terasa makin kencang saja. Aku mengeluh karena tak punya pilihan lain. Sudah kepalang basah. Aku sudah tidak mempunyai cukup tenaga lagi untuk mempertahankan kehormatanku, aku hanya tergolek lemah tak berdaya saat mertuaku mulai menindih tubuhku. Dengan lembut ia mengusap wajahku dan berkata betapa cantiknya aku sekarang ini. “Noviii…..kau sungguh cantik. Tubuhmu indah dan langsing tapi padat berisi.., mmpphh..!!!”, katanya sambil menciumi bibirku, mencoba membuka bibirku dengan lidahnya. Aku seakan terpesona oleh pujiannya. Cumbu rayunya begitu menggairahkanku. Aku diperlakukan bagai sebuah porselen yang mudah pecah. 

Begitu lembut dan hati-hati. Hatiku entah mengapa semakin melambung tinggi mendengar semua kekagumannya terhadap tubuhku. Wajahku yang cantik, tubuhku yang indah dan berisi. Payudaraku yang membusung penuh dan menggantung indah di dada. 

388Casino
Image result for wanita bugil lagi tidur
Permukaan agak menggembung, pinggul yang membulat padat berisi menyambung dengan buah pantatku yang `bahenol’. Diwajah mertuaku kulihat memperlihatkan ekspresi kekaguman yang tak terhingga saat matanya menatap nanar ke arah lembah bukit di sekitar selangkanganku yang baru numbuh bulu-bulu hitam pendek, dengan warna kultiku yang putih mulus. 

Kurasakan tangannya mengelus paha bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Mertuaku menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Kurasakan kepala kontolnya yang besar ditempelkan pada bibir kemaluanku. 

Digesek-gesek, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. Cairan yang masih tersisa di sekitar itu membuat gesekannya semakin lancar karena licin. 

Aku terengah-engah merasakannya. Kelihatannya ia sengaja melakukan itu. Apalagi saat moncong kontolnya itu menggesek-gesek kelentitku yang sudah menegang. Mertuaku menatap tajam melihat reaksiku. Aku balas menatap seolah memintanya untuk segera memasuki diriku secepatnya. Ia tahu persis apa yang kurasakan saat itu. 

Namun kelihatannya ia ingin melihatku menderita oleh siksaan nafsuku sendiri. Kuakui memang aku sudah tak tahan untuk segera menikmati batang kontolnya dalam memekku. Aku ingin segera membuatnya `KO’. Terus terang aku sangat penasaran dengan keperkasaannya. Image result for wanita bugil lagi tidur

Kuingin buktikan bahwa aku bisa membuatnya cepat-cepat mencapai puncak kenikmatan. “Yah..?” panggilku menghiba. “Apa sayang…”, jawabnya seraya tersenyum melihatku tersiksa. “Cepetan..yaaahhhhh……. !!!” “Sabar sayang. Kamu ingin Bapak berbuat apa…….?” tanyanya pura-pura tak mengerti. 

Aku tak menjawab. Tentu saja aku malu mengatakannya secara terbuka apa keinginanku saat itu. Namun mertuaku sepertinya ingin mendengarnya langsung dari bibirku. Ia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kontolnya. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku. “Novii….iiii… iiiingiiinnnn aaa…aaayahhhh….se….se.. seeegeeeraaaa ma… masukin..!!!”, kataku terbata-bata dengan terpaksa. Aku sebenarnya sangat malu mengatakan ini. Aku yang tadi begitu ngotot tidak akan memberikan tubuhku padanya, kini malah meminta-minta. 

Perempuan macam apa aku ini!? “Apanya yang dimasukin…….!!”, tanyanya lagi seperti mengejek.
“Aaaaaaggggkkkkkhhhhh…..ya.. .yaaaahhhh. Ja…..ja….Jaaangan siksa Noviiii..!!!” 

“Bapak tidak bermaksud menyiksa kamu sayang……!!” 

“Oooooohhhhhh.., Yaaaahhhh… Noviii ingin dimasukin ****** ayah ke dalam memek Novi…… uugghhhh..!!!”

Image result for wanita bugil lagi tidur Aku kali ini sudah tak malu-malu lagi mengatakannya dengan vulgar saking tak tahannya menanggung gelombang birahi yang menggebu-gebu. Aku merasa seperti wanita jalang yang haus seks. Aku hampir tak percaya mendengar ucapan itu keluar dari bibirku sendiri. Tapi apa mau dikata, memang aku sangat menginginkannya segera. “Baiklah sayang. Tapi pelan-pelan ya”, kata mertuaku dengan penuh kemenangan telah berhasil menaklukan diriku. “Uugghh..”, aku melenguh merasakan desakan batang kontolnya yang besar itu. Aku menunggu cukup lama gerakan ****** mertuaku memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Selain besar, ****** mertuaku sangat panjang juga. Aku sampai menahan nafas saat batangnya terasa mentok di dalam. Rasanya sampai ke ulu hati.

Aku baru bernafas lega ketika seluruh batangnya amblas di dalam. Mertuaku mulai menggerakkan pinggulnya perlahan-lahan. Satu, dua dan tiga tusukan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam liang memekku membuat ****** mertuaku keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama tusukannya. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakanku sudah tidak beraturan karena yang penting bagiku tusukan itu mencapai bagian-bagian peka di dalam relung kewanitaanku. Dia tahu persis apa yang kuinginkan. Ia bisa mengarahkan batangnya dengan tepat ke sasaran. 

Aku bagaikan berada di awang-awang merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. Batang mertuaku menjejal penuh seluruh isi liangku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan batang itu sangat terasa di seluruh dinding vaginaku. 

“Aduuhh.. auuffhh.., nngghh..!!!”, aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. Kembali aku mengakui keperkasaan dan kelihaian mertuaku di atas ranjang. Ia begitu hebat, jantan dan entah apalagi sebutan yang pantas kuberikan padanya. Toni suamiku tidak ada apa-apanya dibandingkan ayahnya yang bejat ini. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga bercinta dengannya meski kusadari perbuatan ini sangat terlarang dan akan mengakibatkan permasalahan besar nantinya. 

Tetapi saat itu aku sudah tak perduli dan takkan menyesali kenikmatan yang kualami. Mertuaku bergerak semakin cepat. Kontolnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitive. 

Aku meregang tak kuasa menahan desiran-desiran yang mulai berdatangan seperti gelombang mendobrak pertahananku. Sementara mertuaku dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. 

Eranganku semakin keras terdengar seiring dengan gelombang dahsyat yang semakin mendekati puncaknya. Melihat reaksiku, mertuaku mempercepat gerakannya. Batang kontolnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya seakan tak memperdulikan liangku yang sempit itu akan terkoyak akibatnya. Kulihat tubuh mertuaku sudah basah bermandikan keringat. 

Aku pun demikian. Tubuhku yang berkeringat nampak mengkilat terkena sinar lampu kamar. Aku mencoba meraih tubuh mertuaku untuk mendekapnya. Dan disaat-saat kritis, aku berhasil memeluknya dengan erat. Kurengkuh seluruh tubuhnya sehingga menindih tubuhku dengan erat. Kurasakan tonjolan otot-ototnya yang masih keras dan pejal di sekujur tubuhku. Kubenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai buah pantatnya dan menarik kuat-kuat. Kurasakan semburan demi semburan memancar kencang dari dalam diriku. Aku meregang seperti ayam yang baru dipotong. Tubuhku mengejang-ngejang di atas puncak kenikmatan yang kualami untuk kedua kalinya saat itu. “Yaaaah.., ooooohhhhhhh.., Yaaaahhhhh..eeee…eeennnaaaak kkkkkkk…!!!”

Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. “Sayang nikmatilah semua ini. 

Bapak ingin kamu dapat merasakan kepuasan yang sesungguhnya belum pernah kamu alami….”, 

bisik ayah dengan mesranya. “Bapak sayang padamu, Bapak cinta padamu…. Bapak ingin melampiaskan kerinduan yang menyesak selama ini..”, 

lanjutnya tak henti-henti membisikan untaian kata-kata indah yang terdengar begitu romantis. Aku mendengarnya dengan perasaan tak menentu. Kenapa ini datangnya dari lelaki yang bukan semestinya kusayangi. Mengapa kenikmatan ini kualami bersama mertuaku sendiri, bukan dari anaknya yang menjadi suamiku…????. 

Tanpa terasa air mata menitik jatuh ke pipi. Mertuaku terkejut melihat ini. Ia nampak begitu khawatir melihatku menangis. “Novi sayang, kenapa menangis?

"bisiknya buru-buru. “Maafkan Bapak kalau telah membuatmu menderita..”, lanjutnya seraya memeluk dan mengelus-elus rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku semakin sedih merasakan ini.
Tetapi ini bukan hanya salahnya. Aku pun berandil besar dalam kesalahan ini. Aku tidak bisa menyalahkannya saja. Aku harus jujur dan adil menyikapinya. “Bapak tidak salah. Novi yang salah..

”kataku kemudian. “Tidak sayang. Bapak yang salah…”, katanya besikeras. 

“Kita, Yah. Kita sama-sama salah”, kataku sekaligus memintanya untuk tidak memperdebatkan masalah ini lagi. 

“Terima kasih sayang”, kata mertuaku seraya menciumi wajah dan bibirku. Kurasakan ciumannya di bibirku berhasil membangkitkan kembali gairahku. Aku masih penasaran dengannya. 

Sampai saat ini mertuaku belum juga mencapai puncaknya. Aku seperti mempunyai utang yang belum terbayar. Kali ini aku bertekad keras untuk membuatnya mengalami kenikmatan seperti apa yang telah ia berikan kepadaku. 

Aku tak sadar kenapa diriku jadi begitu antusias untuk melakukannya dengan sepenuh hati. Biarlah terjadi seperti ini, toh mertuaku tidak akan selamanya berada di sini. Ia harus pulang ke Amerika. Aku berjanji pada diriku sendiri, ini merupakan yang terakhir kalinya. Timbulnya pikiran ini membuatku semakin bergairah. Apalagi sejak tadi mertuaku terus-terusan menggerakan kontolnya di dalam memekku. Tiba-tiba saja aku jadi beringas. Kudorong tubuh mertuaku hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menicumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya.

Kembali kuselomoti batang kontolnya yang tegak bagai tiang pancang beton itu. Lidahku menjilat-jilat, mulutku mengemut-emut. 

Tanganku mengocok-ngocok batangnya. Kulirik kewajah mertuaku kelihatannya menyukai perubahanku ini. Belum sempat ia akan mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuh mertuaku. Selangkanganku berada persis di atas batangnya.

Image result for wanita bugil lagi tidur“Akh sayang!” pekik mertuaku tertahan ketika batangnya kubimbing memasuki liang memekku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan habis seluruh batangnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak seperti kuda binal yang sedang birahi. Aku tak ubahnya seperti pelacur yang sedang memberikan kepuasan kepada hidung belang.

Tetapi aku tak perduli. Aku terus berpacu. Pinggulku bergerak turun naik, sambil sekali-sekali meliuk seperti ular. Gerakan pinggulku persis seperti penyanyi dangdut dengan gaya ngebor, ngecor, patah-patah, bergetar dan entah gaya apalagi. Pokoknya malam itu aku mengeluarkan semua jurus yang kumiliki dan khusus kupersembahkan kepada ayah mertuaku sendiri! “Ooohh… oohhhh… oooouugghh.. Noviiiii.., luar biasa…..!!!” jerit mertuaku merasakan hebatnya permainanku.
 

Related imagePinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangan mertuaku mencengkeram kedua buah dadaku, diremas dan dipilin-pilin, sehingga air susuku keluar jatuh membasahi dadanya. Ia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke atas dadaku. Menjilat-jilat seluruh permukaan dadaku yang berlumuran air susuku dan akhirnya menciumi putting susuku. Menghisapnya kuat-kuat sambil meremas-remas menyedot air susuku sebanyak-banyaknya. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan dinginnya udara meski kamarku menggunakan AC. 

Related imageTubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk pinggulku. Mertuaku menggoyangkan pantatnya. Kurasakan tusukan kontolnya semakin cepat seiring dengan liukan pinggulku yang tak kalah cepatnya. Permain kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjangku sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Kurasakan mertuaku mulai memperlihatkan tanda-tanda. Aku semakin bersemangat memacu pinggulku untuk bergoyang. Mungkin goyangan pinggulku akan membuat iri para penyanyi dangdut saat ini. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku tak ingin terkalahkan kali ini. Kuingin ia pun merasakannya. Tekadku semakin kuat. Aku terus memacu sambil menjerit-jerit histeris. Aku sudah tak perduli suaraku akan terdengar kemana-mana. Kali ini aku harus menang! Upayaku ternyata tidak percuma. Kurasakan tubuh mertuaku mulai mengejang-ngejang. Ia mengerang panjang. Menggeram seperti harimau terluka. Aku pun merintih persis kuda betina binal yang sedang birahi. “Eerrgghh.. ooooo….ooooooo…..oooooouug ghhhhhh..!!!!” mertuaku berteriak panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar.

Image result for wanita bugil ditidurTubuhku terbawa goncangannya. Aku memeluknya erat-erat agar jangan sampai terpental oleh goncangannya. Mendadak aku merasakan semburan dahsyat menyirami seluruh relung vaginaku. Semprotannya begitu kuat dan banyak membanjiri liangku. Akupun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku. Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengan ayah mertuaku. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. Saking dahsyatnya, tubuh kami terjatuh dari ranjang. Untunglah ranjang itu tidak terlalu tinggi dan permukaan lantainya tertutup permadani tebal yang empuk sehingga kami tidak sampai terkilir atau terluka. “Oooooogggghhhhhhh.. yaahh..,nik….nikkkk nikmaatthh…. yaaahhhh..!!!!” jeritku tak tertahankan. Tulang-tulangku serasa lolos dari persendiannya. 

Related imageTubuhku lunglai, lemas tak bertenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 2 jam! Gila! Jeritku dalam hati. Belum pernah rasanya aku bercinta sampai sedemikian lamanya. Aku hanya bisa memeluknya menikmati sisa-sisa kepuasan. Perasaanku tiba-tiba terusik. Sepertinya aku mendengar sesuatu dari luar pintu kamar, kayaknya si Inah…. Karena mendengar suara ribut-ribut dari kamar, rupanya ia datang untuk mengintip…. tapi aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikannya dan akhirnya tertidur dalam pelukan mertuaku, melupakan semua konsekuensi dari peristiwa di sore ini di kemudian hari.
   

-Bacarrat-Roulette
-Sicbo-388Casino

Senin, 10 April 2017

388casino-Mertua Ku Yang Haus Akan Sex

Mertua Ku Yang Haus Akan Sex


Saya yang berkerja di suatu perusahaan swasta. Namaku Tono, saya yang memiliki istri yang lumayan cakep dan bahenol. Tapi dengan hal itu aku juga sedikit bosen, dengan adanya Ibu mertua ku yang juga lumayan bahenol dan seksi dengan umuran yang sudah setengah baya yang sekarang ini dengan manyandang status Tante.
Image result for mertua sexy hot
Namun dengan adanya itu kami sekeluarga sering memanggil dengan sebutan Bunda. Supaya tidak ada jarak dan berdekatan.

Dengan sebutan Bunda Mirna, dia adalah tante dari istriku Livani. Bunda Mirna merupakan Istri dari Paman Istriku Livani , Bunda Mirna merupakan Istri kedua dari Paman Istriku Livani.

Dengan berwajah yang masih cantik, postur tubuh yang lumayan jenjang, dengan kulit yang lumayan bersih dan putih, mulus. Bunda Mirna memang lebih tua dari istriku tapi belum terbilang tua.

Karena Bunda Mirna istri kedua dari Paman Istriku Livani, dengan bentuk tubuh yang proporsional semua lekuk tubuh sensualnya masih mengencang. Dengan bentuk dada yang terlihat kenyal, masih kencang.

Layaknya masih muda saja usia tubuhnya dengan perut yang masih rata gak begitu menonjol , dengan pinggul dan bokong yang masih menonjol dan kencang.

Kenapa bisa seperti itu ??

karena waktu bergaul dengan pamanku Bunda Mirna tak pernah hamil dan kurang lebih dari 5 tahun berumah tangga dengan Paman Istriku Livani.

Mungkin hanya setengah tahun dia digauli sebagaimana layaknya seorang istri.

Selebihnya selama 5 tahun selanjutnya, hanya dia bisa menikmati dengan belaian saja serta ciuman dari suaminya. Karena yang menyebabkan semua itu terjadi Paman yang mempunyai penyakit stroke dan sekarang sudah wafat.

Bunda Mirna status yang sekarang menjanda kurang lebih hampir 2 tahunan, sekarang sudah jatuh miskin dan tak punya keturunan.

Bunda Mirna juga tak bekerja dan juga tak memiliki usaha. Tidak ada peninggalan apa-apa yang di tinggalkan sama suaminya.

Oleh karena itu, Saya dengan istri sudah sepakat dan berniat untuk menafkahi kepada Bunda Mirna. Setiap seminggu sekali istriku selalu datang menemui Bunda Mirna untuk menjenguk sekaligus membawanya belanja keperluan dapur ke pasar. Saya paling hanya listrik dan paling sebulan sekali menjenguknya.

Semua ini kami lakukan hitung-hitung balas budi, karena sewaktu suaminya masih ada dan kondisi kehidupan kami belum mapan kami banyak dibantunya.

Saat itu istriku yang sedang sakit dan tak enak badan padahal dengan rutinitasnya yang seperti biasa menjenguk Bunda Mirna untuk keperluan mingguan nya / kebutuhan dapur sementara aku yang gantikan dulu. Namun saat aku gantikan untuk beberapa hari ada yang aneh dan fantastis.

Mertua Ajiiiiib. . . . | Aku sudah biasa dan tak risih lagi sama Bunda Mirna, karena sudah biasa bertemu dan bahkan sudah ku anggap kayak Ibu ku sendiri. Kami juga sering tidur bertiga, Aku, Istriku dan Bunda Mirna, bahkan pernah suatu siang kami, Aku dan Bunda Mirna tidur berdua dikamar, jadi tak ada hal yang anehdan biasa saja.

Namun kali ini kejadiannya tak terencana dan sangat mengagetkan.setelah pulang kerja sore hari kisaran jam 5.30 sore.

Aku langsung menuju kerumah Bunda Mirna, untuk menggantikan istriku menemani Bunda Mirna belanja keperluan dapur seperti biasanya . Setelah sampai di rumah Bunda Mirna, aku langsung menempatkan mobil ku di depan garasi rumahnya.


Related image
“Halooo Bun……!” Sapa ku

Sambil menghampiri Bunda Mirna yang sedang tiduran di sofa sambil menonton TV, lalu mulai kucium kedua pipinya. Kebiasaan di keluarga kami kalau bertemu dalam satu keluarga.
“Dengan siapa kamu Ton …?” Tanya Bunda Mirna.
“Ya dengan Mobil Bun …..!” Jawab ku

Kemudian aku mengarah ke dapur untuk mengambil segelas air dingin.
“Jangan bercanda …., Bunda Tanya kok…..!! “
“Tono tak bercanda Buuuuun …., “
“Tono jawab benaran “

Dan sekarang aku duduk di bangku tamu bersama Bunda dan di sofanya, sambil ikutan menonton TV.
“Maksud Bunda, Livani tak ikut ?” Tanya Bunda Mirna

Livani adalah Istri ku.
“Livani lagi tak enak badan Bun, makanya Tono yang kesini” Jawab ku.

Sambil mengalihkan pandangan dari acara TV kearah Bunda Mirna, tetapi malah pandanganku mengarah ke pangkal pahanya yang sedang dilipat dan saling bertindihan.Kusadari Bunda Mirna tak sadar kalau dasternya tterbuka sedikit atau dia jangan jangan sudah tahu tapi karena hal ini sudah biasa maka tak ada masalah bagi kami.

Kali ini aku kok perasaanku sedikit aneh dan beda ya.

Mertua Ajiiiiib. . . . |Aku seperti merasa terangsang dengan pandangan itu . Aku sadar sehingga ku alihkan secepatnya pandanganku lagi kearah siaran TV.

 Aku mencoba mecuri pandang dengan melirik kearah paha tadi, hati semakin tak tenang. Pikiranku mulai tak melayang-layang. Kucoba membuang fikiran yang sudah mulai tak menentu arah. 

“Bunnnn….. !`” sapaan ku berhenti

Aku ingin mengobrol tapi pada saat aku menyap, bersamaan aku memalingkan pandangan ku lagi kearah wajah Bunda Mirna. Dan pandangan ku berhenti di bagian payudara Bunda Mirna yang terlihat montok karena belahan dastrernya pada bagian dada melorot kesamping, karena pada saat itu posisi tidur Bunda Mirna disofa miring.

”Ada apa Ton … ” Tanya nya

Dengan jawaban itu mengagetkan ku, aku segera memalingkan pandanganku kewajahnya.

” Ayo Bun…, rapi-rapi, sudah hampir jam malam nich, nanti mall buruan tutup”
” Ton…, kok badan Bunda rasanya lemes, kurang bersemangat ”.
“ Kalau besok aja gimana ?”
“ Kita belanja nya. . .”
” Lhaaa. . . … Bunda ….., ??”
“ Padahal Tono udah sampai disini, lagi pula besok Tono ada kerja lembur??”
“ Iya kalau Livani sudah enakkan dan bisa kesini Bun. . . ”
“ Ya udah kapan kapan aja “ sambutnya lagi,
“Enggak ah Bun… sekarang aja?? “

ntar kalo pending malah gak jadi lho ,
kayak yang dulu aja nih Bun. . ?”.

“Kamu memang orangnya kaku Ton, , , kalau ada maunya tak bisa ditunda tunda deh. . ”
“Ya sudah, Bunda ganti baju dulu yan Ton. . ? “
“Dan kalau nanti Bunda jadi sakit kamu yang repot Lho….?”


Akhirnya dengan malas Bunda Mirna beranjak dari sofanya menuju kamar, aku pun melanjutkan menonton TV. Beberapa menit aku menunggu dengan tak sabar kemudian aku pun mengarah ke pintu kamar. Tiba tiba aku kaget melihat pandangan didalam kamar.

Kulihat Bunda Mirna membelakangi pintu kamar dengan hanya menggunakan celana dalam tanpa BH, sayangnya posisinya juga membelakangi ku sehingga aku hanya bisa menikmati lekukan tubuhnya dari belakang, dan cukup indah masih seperti anak remaja, semuanya serba ketat dan semok. Aku tambah birahi saja dengan tubuh Bunda Mirna.Ku tamati setiap lekukan tunbuhya dari kepala sampai ujung kaki. Uraian rambut menambah pesonanya dan gairahku jadi meluap. Terlihat Bunda Mirna mengenakan Baju putih sedikit ketat, wah rupanya dia tak memakai BH, setelah itu dia pakai celana Jeans ketat juga yang panjangnya selutut, dan langsung berbalik kearah pintu kamar.

Aku dengan cepat juga memalingkan muka ke arah TV seolah-olah tak tahu apa yang terjadi tadi di kamar Bunda Mirna.

“Ayo Ton …. Kita jalan “.

sapa Bunda Mirna yang sudah keluar dari kamarnya, dan aku pun meraih remote TV untuk mematikan TV, sambil bangun dari sofa yang aku duduki.

“Kalau nanti Bunda sakit, kamu harus tanggung ya Ton !”

Bunda Mirna membuka lagi pembicaraan setelah beberapa menit kami meninggalkan rumahnya dan Bunda Mirna sedang menikmati jalan sambil duduk disebelahku. Aku sambil memegang setir mobil menjawab dengan santai dan manja.

” Ya …. Iya dong Bun…., siapa lagi yang ngurus Bunda kalau bukan Tono.”
” Bunda sambil rebahan ya Ton ?”

pintanya sambil merebahkan sandaran jok mobil yang didudukinya.
“ Boleh kan Ton ? ”

pintanya lagi sambil memegang tangan kiriku, tapi saat ini posisi Bunda Mirna sudah rebah dan terlentang, seolah-olah memerkan dadanya yang seksi dan menonjol mengesankan itu.

Aku menoleh kesamping kearah Bunda Mirna sambil mengangguk, tapi lagi-lagi pandanganku terhenti di payudara Bunda Mirna, yang terlihat jelas dengan lekukannya dari balik bajunya yang sengaja kebelah pada bagian atasnya.

Kuarahkan lagi pandanganku ke arah jalan raya agar tak terjadi apa-apa.Setibanya di Supermarket mobil aku parkirkan ditempatnya dan kami pun berjalan menuju kedalam supermarket sambil bergandengan. Bunda Mirna mengait tanganku untuk digandolinya, hal ini sudah biasa bagi kami, tapi kali ini darah ku berdesar-desar saat bergandengan tangan dengan Bunda Mirna.

Bagaimana tak berdebar, yang dari tadi dalam otakku terbayang dengan lekukan payudaranya Bunda Mirna . Kini payudaranya tersenggol-senggol mengenai siku kiri ku se irama dengan gerakan langkah kami selama menuju kedalam Supermarket.

Setibanya di dalam supermarket aku langsung mengambil troli disisi pintu masuk supermarket, dan kami pun bergandengan lagi menuju ke barisan etalase keperluan Dapur.

Satu persatu barang keperluan dapur dipilih dan diambil oleh Bunda Mirna, dan aku memperhatikan lekukan tubuhnya Bunda Mirna yang masih mengencang yang bergerak terus kadang merunduk dan berdiri lagi sambil dia memeriksa barang. ” Ton, coba kamu lihat labelnya ini??” “ Apakah masih berlaku gak “?? pintanya.

Related image

Sambil jongkok dan dan tanpa melihatku kebelakang dengan tangan memegang sebuah makanan kaleng memberikan kepada ku. Kemudian aku bergerak mendekati Bunda Mirna dan berdiri tepat disampingnya yang sedang jongkok, ku ambil makanan kaleng yang ada ditangannya dan ku perhatikan dengan seksama label masa berlaku yang dimaksud.

” Masih lama kok Bun……” Jawab ku

Sambil mengembalikan makanan kaleng tadi kepada Bunda Mirna, yang saat ini posisinya sedang membungkuk memperhatikan barang-barang yang lain.

Aku melongoo melihat dua buah gunung yang menempel di dada Bunda Mirna. Sangat terlihat jelas karena posisinya yang membungkuk sehingga bajunya menggantung kebawah.

Buah dada yang indah, masih mengencang, dan memiliki putting yang masih kencang dan agak mungil. Maklum karena Bunda Mirna belum pernah menyusui bayi dan bentuknya masih bagus. Tanpa keriput sedikitpun di sekitar putingnya, putih mulus dan terawat dengan baik. Ada sekitar sepuluh detik aku memperhatikannya, terhenti karena Bunda Mirna berdiri dan bergeser posisi.

Kini aku pun tetap berada disampingnya, dengan maksud untuk mendapatkan kesempatan memandang seperti tadi, dan benar Bunda Mirna sebentar-bentar menunduk, dan kesempatan itu tak aku lewatkan dengan langsung mengincar pandangan payudaranya yang indah itu.

Sudah lebih kurang setengah jam kami mengitari etalase demi etalase, tiba-tiba dari posisi jongkok Bunda Mirna meraih tangan kiriku yang sedang berada disebelahnya.

Sambil menggandul ditanganku Bunda Mirna berdiri dan merapatkan badannya disisi badan ku langsung meletakkan wajahnya di bahu kiri ku sambil berbisik.

” Bunda pusing Ton. . .”
“ Bunda udah enggak kuat lagi kayaknya” .

Kemudian tangan kiri ku mengait pinggul Bunda Mirna setengah memeluk dan berkata,

“ Ya.. sudah Bun.. “
“ Kita pulang yuk. . .?”
“ Kalau masih ada yang kurang belanjaannya bisa dibeli di warung dekat rumah aja. .

” Mertua Ajiiiiib. . . . | Tanpa menunggu jawaban Bunda Mirna, sambil tetap merangkulnya tangan kanan ku meraih kereta dorong belanja an dan berjalan menuju Kasir. Selesai membayar semua belanjaan aku pun meminta petugas kasir untuk membantu membawakan barang ke Mobil.

Sementara itu aku berjalan didepan sambil merangkul Bunda Mirna. Yang kurasakan sekarang payudara Bunda Mirna menempel disamping dadaku, dan nafasnya yang wangi sangat terasa disisi pipi ku. Setibanya di Mobil aku pun membuka kan pintu dan membimbing Bunda Mirna masuk ke Mobil.

Secara perlahan aku dudukan dan kurebahkan ke kursi yang berada disebelah supir, dan sambil kedua tangan ku menahan badan Bunda Mirna rebah, tersenggol lah kedua bakpao oleh tangan ku, “ Aduh… “ “Alangkah keras dan padat tuh buah dada”.

Di perjalanan pulang ku tanyakan apakah perlu diperiksa ke dokter, tapi Bunda Mirna mengatakan tak perlu, karena dia hanya merasa pusing biasa. Mungkin masuk angin dan aku pun menyetujui dan langsung mengarahkan mobil ke rumah Bunda Mirna.

Kusempatkan memegang kening Bunda Mirna dengan tujuan memeriksa apakah badannya panas atau tak. Kupalingkan pandangan ku sekali sekali kearah Bunda Mirna yang tiduran disamping.

“Masih pusing Bun….., Tanyaku.
“Sedikit ….. ” jawabnya singkat. 
“ Ntar juga sembuh Ton …….”.

Pembicaraan kami terhenti dan diam beberapa saat.Mobil aku parkir didepan rumah, dan dengan bergegas aku turun terus menghampiri sisi pintu kiri mobil untuk membukakan pintu bagi Bunda Mirna, pintu pun ku buka, kulihat Bunda Mirna terasa berat mengangkat badannya dari Jok Mobil. 

“Bantu Bunda dong Ton…., dasar tak bertanggung jawab ” dengan manja.

Akupun langsung merangkul pinggulnya turun dari Mobil dan langsung memapah kedalam rumah. Setibanya didepan pintu masuk Mpok Nirah pembantu Bunda Mirna membukakan pintu dan aku sambil membopong Bunda Mirna memerintahkan Mpok Nirah untuk menurunkan barang serta menguncil kembali mobilnya.

“ Bunda mau tiduran di Sofa atau dikamar?” tanyaku.
“ Dikamar aja Ton. . .”

Kami pun menuju kamar, dan aku langsung membaringkan Bunda Mirna terlentang di tempat tidur. Bunda Mirna pun berbaring sambil memegang kepalanya.

“Tono balur minyak telon dulu ya.. perut Bunda, setelah itu Tono pijit-pijitin kepala Bunda” ucapku.


Bunda Mirna diam saja, dan aku mengartikan dia setuju, akupun langsung beranjak mengambil minyak telon yang tersedia di tempat obat. Kuangkat sedikit baju bagian bawah Bunda Mirna sampai batas rusuk bawahnya, dan akupun membalurkan minyak telon tadi, dengan lembut aku lakukan. 

“Bun … Kancing celana Bunda di lepas ya… biar lega bernafas ”

Aku tahu dia pasti tak menjawab dan aku pun langsung melepas kancing celana nya. Selesai aku membalur bagian perutnya dan tanpa meminta ijin aku membalur bagian dada atasnya. Saat itu Bunda Mirna ku perhatikan sedang memejamkan matanya sambil kedua tangannya memegangi kepala.

Dan aku duduk diatas tempat tidur disisi kanan Bunda Mirna. Sesuai janji ku, selesai membalur akupun mulai memijit kepala Bunda Mirna, perlahan ku tarik kedua tangannya kebawah, dan tanpa kusadari tangan kanannya jatuh diatas pangkal paha ku hampir mengenai kontolku.


Perlahan aku pijit dengan lembut kepalanya, dia pun menikmatinya, tiba-tiba aku teringat pemandangan yang indah sewaktu di supermarket tadi, dua bejolan bakpao yang menggairahkan, seketika itu juga pandangan ku berpindah ke arah dada Bunda Mirna.

Dan sial yang terlihat hanya bagian atasnya, bajunya hanya terkuak sedikit pada saat aku membalurkan minyak telon pada bagian dada tadi.

“Ton…. Jangan pulang dulu ya…, temani Bunda sampai enakan”

Aku terkejut dengan suara tadi dan akupun memalingkan muka ku kearah wajah Bunda Mirna, sambil mengangguk. Pijitan ku terus pada kepala Bunda Mirna, dan dia pun kembali memejamkan matanya.

Terasa capek karena posisi ku memijit agak membungkuk, aku pun pindah duduk di lantai karpet. Sekarang posisi memijit ku sambil duduk dilantai dengan kepala aku tidurkan ditempat tidur, pas berada disamping payudara Bunda Mirna.

Karena mungkin terlalu capek, akupun tertidur pulas, ada mungkin 15 menit, dan aku terbangun karena tekanan buah dada sebelah Kanan Bunda Mirna pada ubun-ubun kepala ku.

Kuangkat kepala ku, ku dapatkan Bunda Mirna sedang tidur miring kekanan menghadap ku, dan tanpa kusadari sekarang pipi ku menempel langsung pada bagian atas buah dada kanan Bunda Mirna.

Aku tak berani bergerak, ku diamkan saja pipi ku menempel, tapi kontol ku mulai mengeras.

Ada lebih kurang satu menit aku terdiam pada posisi ini, dan tiba-tiba Bunda Mirna memindahkan tangan kirinya yang dari tadi di atas paha nya ke bahu ku tepat dibawah leher, seolah-olah memeluk ku.

Gerakan Bunda Mirna tadi menyebakan bajunya yang terkuak nyangkut di dagu ku dan tertarik kebawah, sehingga makin terbuka lebar buah dada yang terbuka, dan kepala ku juga ikut terdorong kebawah dengan posisi tidur Bunda Mirna masih miring dan sangat menyenangkan karena puting susu kanan yang kecil mungil tadi berada dekat di ujung bibir ku.

Aku heran dan gemeter, apakah ini sengaja dilakukan oleh Bunda Mirna, dan apakah dia benar-benar tidur sehingga tak mengetahui keadaan ini. Sementara pikiran kotorku bertanya-tanya tanpa kusadari lidah ku sudah mulai menjilati pinggiran puting yang kecil mungil dan halus itu.

Terus aku jilati sepuas ku dan perlahan aku geser kepala ku sedikit agar lebih dekat dan dapat mengisap serta mengulumnya. Kini akuh isap puting yang menggairahkan itu. Bunda Mirna masih memejamkan matanya, entah tidur atau gak.

Tapi aku sudah tak peduli lagi dan perlahan aku buka baju atasnya, agar aku bisa lebih leluasa menjilati buah dada yang indah ini. Tiba-tiba ada gerakan pada kaki Bunda Mirna, dan dengan segera aku lepas kuluman bibir ku di puting Bunda Mirna dan aku ber pura-pura tidur.

Waaaah bener Bunda Mirna menggerakkan badannya dan berpindah posisi miring membelakangi ku.

Untuk beberapa saat aku terdiam sambil memperhatikan punggung Bunda Mirna, namun otakku terus merayap mencari akal agar aku dapat menikmati buah dada yang montok tadi, maklum nafsu ku sudah mulai tak bisa di cegah, untuk pulang kerumah menyalurkannya perlu waktu lagi.
Related image

Sementara disini aku sudah dapat kesempatan, apalagi aku tahu Bunda Mirna sudah bertahun-tahun tak pernah di sentuh pusaka mematikan.

Pasti memek nya sudah mulai rapat dan ketat lagi. Akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri naik ketempat tidur dan berbaring disebelah Bunda Mirna dengan posisi miring menghadap punggung Bunda Mirna.

Untuk beberapa saat aku berfikir di mulainya dari mana??

Aku bingung??

Tapi akhirnya aku putuskan untuk memeluk Bunda Mirna dari belakang dengan melingkarkan tangan kanan ku ketengah dadanya. Perlahan ku tempelkan telapak tangan ku bagian atas buah dada kiri Bunda Mirna,.

“Waaaah….!!!!!

benjolannya masih keras, pelan ku gerakkan tangan ku turun ke bagian tengah buah dadanya Dan sekarang posisi tangan ku sedang mempermainkan putting buah dada Bunda Mirna sambil meremasnya.

Ku rasakan badan Bunda Mirna bergerak dan akupun berhenti dalam permainan ku sejenak dalam posisi masih memeluk Bunda Mirna dan tangan ku masih berada diatas bakpao kenyal Bunda Mirna.

Bersamaan akan aku mulai lagi permainan ku tadi, karena aku anggap Bunda Mirna sudah pulas lagi, ku dengar suara serak dan parau dari sebelah ku.

“Ton. . . dari tadi Bunda tahu kalau Tono netek”
“Dan sekarang pegangi susu Bunda “

suara ini datangnya dari Bunda Mirna. Aku sangat terkejut dan sekujur tubuh ku takut dan bersalah.
“Bunn …..”

Belum selesai aku berbicara tiba–tiba tangan ku yang berada diatas buah dada Bunda Mirna dipegangnya dan ia berkata :
“Ayo Ton. . “
“Tak apa-apa Ton……., kalau kamu masih belum puas teruskan aja, asal kamu bisa memberi kesenangan pada Bunda ”

Tanpa menunggu aba-aba lagi dari Bunda Mirna, aku segera menarik badan Bunda Mirna sehingga pada posisi telentang.

Dan karena bajunya sudah terbuka setengah maka terkuak lah bakpao yang aku remas -remas tadi.

“ Tono akan memberikan kepuasan yang telah lama hilang dari Bunda malam ini ”.

Selesai berkata demikian, aku langsung menerkam dan melumat bibir mungil yang dihadapan ku.

Permainan bibir berjalan sangat panjang, kami saling bertukar menghisap bibir atas dan bawah, saling mempermainkan lidah, bagaikan dua orang yang sudah lama tak berciuman.

Permainan bibir dan ciuman ku hentikan dan aku berkata lembut sambil memandangi mata Bunda Mirna yang sudah mulai sayu.

“Bunda sudah puas ciuman kan ……..??” dia tersenyum dan mengangguk.
“Sekarang Bunda nikmati saja ya…….,??”
“ Bunda diam dan nikmatilah ”
“ Tono akan memberikan kesenangan yang Bunda inginkan !!”

Perlahan aku pelorotkan badan ku yang ada diatas Bunda Mirna turun kebawah, sehingga muka ku persis diatas dada Bunda Mirna. Ku ciumi lembut leher kirinya dan perlahan berputar ke leher sebelah kanan, setelah puas dengan ciuman di leher, ciuman aku pindahkan kebagian payudara Bunda Mirna.

Pertama aku ciumi dan aku jilati gundukan kedua bakpao, dan bergeser kebagian tengah, kini aku kitari keliling gundukan bakpao yang kanan dan sekarang yang kiri.

Perlahan ku rambatkan juluran lidah ku keatas puting susu kiri Bunda Mirna dan ku hisap sedikit-sedikit sambil menggigit halus.

Ku raskan kedua tangan Bunda Mirna mulai mendekap badan ku, dan kurasakan juga Bunda Mirna mulai menggerak-gerakkan pinggulnya yang ku tahu dia sedang mencari ganjalan agar menekan tepat dibibir memek nya.

Aku pindahkan lagi kuluman dan permainan bibir ku ke puting susu Bunda Mirna yang sebelah kanan, Bunda Mirna makin bergerak agak cepat, dia mulai terangsang penuh.

“ Enak Bun….., ???”
“Bunda Senang .??…..”sambung ku lagi.
“Ton …. Bunda senang”
“Bunda Puas….., “
“Kamu pinter, “
“Kamu lembut …….anak manis, …… Bunda sudah lama sekali tak merasakan ini,
“Bunda ….mau kalau setiap ketemu Kamu cium dan netek ama Bunda………”
“Ton ……, lagi nak ……., jangan terlalu lama ngobrolnya, teruskan aja apa yang kamu mau lakukan”

“ Bunda pasti senang”.
“Cium lagi Ton ….., “
“Mimik lagi anak manja …..’”


Aku pun meneruskan permainan lidah ku di kedua susu yang mental mentul dan keras itu. Perlahan ciuman dan jilatan ku turun ke bawah sambil aku melorotkan lagi badan ku dan kini kaki ku sudah menyentuh lantai.

Ku ciumi perlahan perut Bunda Mirna terus kebawah sambil membuka celana Bunda Mirna. Sekarang posisi ciuman ku sudah berada dibagian bawah pusar Bunda Mirna, kira-kira satu jari lagi diatas klitoris Bunda Mirna.

Badannya mulai bergerak tak karuan, pinggulnya naik turun se akan ingin segera ujung lidah ku menyentuh belahan yang sudah mulai membasah ini, se sekali kudengar suara desis dari bibir mungil Bunda Mirna dan nafas yang sudah mulai tak menentu. 

“Aarrrrghhhkk…. Hiiiik …….”
“Ehhhh, yaa…hhhh Ton……”

Perlahan segera ku tarik dan lepaskan celana jeans dan sekaligus celana dalam Bunda Mirna, badan dan kakinya ikut dilenturkan agar mudah aku melepaskan celana yang menutupi memeknya.

Sekarang celananya sudah terlepas tak ada lagi yang menutupi kulit mulus Bunda Mirna dari pusar kebawah, sementara baju yang dipakainya sudah ku buka semua dan telah terbuka lebar. Aku terdiam sejenak dan memandangi tubuh mulus Bunda Mirna yang sedang telentang pasrah sambil memejamkan matanya.


Ku pandangi dari kedua buah dadanya sampai ke tengah selangkangan nya yang menjepit memek yang ditumbuhi bulu halus. Berulang kali aku pandangi, akhirnya aku terkejut oleh suara Bunda Mirna.

“ Anak manja …….., “
“ Apa sudah selesai kamu puaskan Bunda???”
“Bunda cukup kamu pandangi saja seperti itu??”
“Tentu tidak Bunda sayang ……??”
“ Bunda akan mendapatkan kepuasan yang belum pernah Bunda dapatkan sebelumnya…dari Tono pokok nya ”

Aku tak akan menyia-nyiakan pemandangan yang langka ini, jadi Tono puas-puaskan dulu memandangi Bunda….”

“ Cepetan lah Ton….”
“ Bunda sudah tak sabar lagi merasakan kenikmatan yang kamu janjikan….., “
“ Kamu bisa memandang Bunda kapan saja dan dimana saja nanti ”
“ Bunda pasti kasih asalkan kamu puasin Bunda dulu sekarang ”

Mertua Ajiiiiib. . . . | Tanpa menjawab apa-apa lagi aku pun berlutut diujung kakinya di tengah kedua kakinya. Perlahan aku elus elus dengan tangan ku, kedua kaki Bunda Mirna mulai dari bawah betisnya sampai kepangkal pahanya naik turun sambil kedua ujung jari ku menyentuh sekali-sekali bibir memeknnya.

Rangsangan mulai dirasakan Bunda Mirna, kaki dan pinggulnya sontak bergerak dan kejang-kejang. Melihat hal itu aku langsung membungkuk dan menjilati bibir Memek Bunda Mirna. Tercium aroma khas memek yang terawat dan basah…..,

dan aku yakin, memek ini sudah bertahun-tahun tak disentuh benda keras.

Kelihatan rapat dan tak berkerut, satu kenikmatan besar aku dapatkan. Permainan lidah ku berlangsung tambah lincah dan sambil menggigit dan menghisap bagian klitoris yang terangsang itu. 

“Ton…. Enak sekali Ton, , , …….,”
“ Kamu benar ……”
“ Bunda belum pernah merasakan jilatan seperti ini …… “
“ Sungguh beb …., ahhhkkk Tonoooo…..”
“ Aahhhh ehhhhhhhlk kkk…..”

sambil bergumam Bunda Mirna menarik rambut ku dengan kedua tangannya agar aku merapatkan dan menekan bibir ku kuat ke Memeknnya.

“Jangan berhenti Tono ….. ,”
“ Terus Tonoooo. . “
“ Bunda puas…., “
“ Bunda ahhkk…. Mhhhhhhh….., “
“ Bunda menikmatinya Ton ……. “
“ Uhhh….. Ahhhh…..”
“ Kamu apain Ton……, “
“ Ampuuun deh. . . Anakku….., Ampun … “
“ Bunda ……..ahkkkkk ahhhhhhh “ ucapku
“ Enak Ton……,” ucapnya.


Aku tak perdulikan ocehannya, terus aku jilati memeknya yang semakin basah, kutahan pinggulnya dengan kedua belah tangan ku agar tak menggangu permainan ku dengan rontakan nya.

 Dengan cepat kedua tangan Bunda Mirna meraih ikat pinggang dan kancing celana ku, dan membuka resliting celnaa ku. Kurasakan darah ku mengalir cepat dan kontolku tambah berdiri saja pada saat tangan kanan Bunda Mirna menelusup masuk kedalam celanaku dan mengelus batang kemaluan ku.

Ku diamkan saja apa Maunya. Bunda Mirna terus mengelus dan meremas remas kontol ku.

Dengan tak sabar di pelorotinya celana ku, dan karena posisi berdiri dengan lutut diatas tempat tidur dihadapan Bunda Mirna, sehingga gerakan tanganya melorotkan celanaku dan celana dalam ku berhenti di lutut ku, tapi itu semua sudah cukup untuk membuat kontol ku tak tertutup lagi

“Ton….. besar sekali kontolmu “

berkata sambil mengelus-ngelus batang dan buah zakar ku.
“Ton apa tak sakit Ton ….,???”
“Bunda kan sudah lama tak dimasuki ……”
“Gak papa Bun….., ?? “

Nanti Tono akan pelan - pelan dan Bunda akan merasakan nikmatnya ..” Dan
“ Aahhhhhk….., “ tersentak nafasku,

Bunda Mirna sudah mengulunm ujung batang kontol ku, dihisapnya dan sambil memaju dan memundurkan kepalanya aku rasakan setengah batang kontol ku sudah masuk kerongga mulut Bunda Mirna. Aku biarkan dia menikmatinya sambil membuka baju ku, setelah itu, aku membuka baju Bunda Mirna yang sudah terbuka.

Sambil Bunda Mirna menikmati Batang kontol ku, kedua tanganku juga meremas-remas buah dadanya dan sekali mengelus punggungnya dan yang lainnya.

Pokoknya hampir seluruh badannya aku elus. Ciuman Bunda Mirna di batang kontol ku berhenti dan kedua tangan ku diraihnya lulu ditariknya sambil Bunda Mirna merebahkan kembali badan nya. Maka badan ku pun tertarik merebah menimpa diatas badannya.

 ” Bunda sudah tak sabar lagi ke pengen ngrasain kontol milik anak Bunda yang besar itu..”
“ Ayo ….Tono …buruan . .. .! ”
“ Iya … BUNDA …. “ Sambut ku

sambil mencaplok bibir basah Bunda Mirna. Kemudian pinggul aku gerak-gerakan untuk mengarahkan torpedo ku masuk ke bibir Memek Bunda Mirna yang sudah sempit lagi itu.

Kurasakan kepala kontol ku sudah menempel di Memeknya, dan aku rasakan Bunda Mirna mengangkat pinggulnya untuk menekan rapat kebatang kontolku.

Kuangkat pantat ku dan pelan kuarahkan ujung batang kontol ku tepat di tengah lubang yang basah ini, kutekan pelan-pelan dan

“ Aarrrhkkkk…….” tersentak badan Bunda Mirna.
“Sakit gak Bun ……??”, Tanya ku

Bunda Mirna tak menjawab dia hanya mendesih….
“ Ehhhhhhh. ….”
“Hmmm. .. . “

Aku terus menekan sedikit demi sedikit, masuk sudah setengah kepala batang kontol ku…..
Lalu Kutekan terus dan sekarang seluruh kepala kemaluan ku sudah masuk di lubang nikmat nya……


Terus kutekan per lahan dan pelan lalu masuk lah setengah Batang kontol ku , tapi Bunda Mirna berteriak…..!!!! 

“Aduhhhhhh … ahhkkk…”

Aku hentikan gerakan menekan ku Lalu aku bertanya :
“Sakit ya Bun……,??”

Dia mengangguk tapi kedua tangannya memegang pinggul ku, seakan tak membolehkan aku mencabut batang kontolku dari memek nya.

Aku berfikir, baru setengah sudah sakit dan terasa terjepit. Memang Batang kontolku cukup besar sementara Bunda Mirna yang memeknya sempit, aku jadi penasaran dan ingin merasakan nikmatnya kalau seluruh batang ku masuk.

Secara perlahan ku gerakan lagi pantat ku menekan kedalam, lembut sekali dan sangat perlahan.

“Ehh… ahhh…, Ton…. “
“ Ahhhhh…. Iya ehhhh “ “ Aahh …. Ton…..,”

itu lah suara yang keluar dari mulut Bunda Mirna seiring gerakan ku naik turun yang menyebabkan kontol ku keluar masuk. Sedikit -sedikit gerakan menekan kedalam aku tambah sehingga batang ku yang masuk semakin dalam. Aku rasakan di ujung batang kontol ku seperti ada yang hisap-hisap, alangkah nikmatnya.

Aku hampir tak tahan dan semua batang ku sudah nancep ke dalam. Karena terasa hangat dan nikmat dengan lembut aku rapatkan selangkangan ku sambil kedua tangan ku menguak dan mengangkat kedua kaki Bunda Mirna.

Ku tekan rapat-rapat dan ku gerakkan pinggul ku dengan pahaku menempel rapat dan semua batang kontol ku telah masuk.

“Ton ….. nikmat sekali Ton. . . .??”
“ Sudah lama sekali Bunda tak rasain kayak gini??”
“ Kamu mahir bangett main seks nya … Nak… ??”
“ Bunda … bisa ketagihan nih Ton….”?


Aku terus memutar pinggul ku dan menciumi lehernya sambil merapatkan badan ku.

“Bunda bisa minta kapan saja ….., “
“ Ya Tonnn. . . “
“Punya Bunda masih enak, rapat dan menghisap ….”
“Tono menikmatinya Bun…..”
“Arrrhhhkk Ton …., goyang ahhhhh, goyangnya lebih cepat sayang ….., Bunda kayaknya mau
muncrat. . . !!“
“ARahhkkkk Ton ,,,, “
“ Ya…. Uhhhh ……”
“ Hmmmm .. Ton……”


Image result for mertua sexy hot


Aku hentikan sejenak goyangan ku dan ku perbaiki posisi ku dengan sedikit menarik dengkul ku agak menekuk agar pada saat dapat nanti aku bisa leluasa mengankat dan menekan pantat ku dengan leluasa. “Jangan berhenti sayang …..”

“Tenang saja Bun…. Kita barenan, …”

Pada saat dapat nanti Tono akan keluar masuk kan punya Tono biar Bunda lebih nikmat lagi….
“ Kalau mau keluar Bunda bilang Ya…..” ???


Aku sudah mulai menggoyang pinggul ku dengan merapatkan panggkal paha ku.
“ Bun…. Sekarang nikmati “!!

Ku goyangkan terus berputar pinggul ku makin lama makin cepat.
“Ton …. Ahhhh, terus Ton…., Terus Sayang,….. auuu… ahh…., ya…. Ton….Ya yesss……”
“Uh ……ahhhh, eeeenak,,,, sekali anak ku….., kamu…. Ahhhhh, goyang … tekan,,,,,,”

Semakin mengejang seluruh badan Bunda Mirna dan goyangan ku semakin cepat berputar.
“Ton… ahhhh, Ton …. Tonnnnn , “
“Bun ….. ahhhh, ahhhh .., “ 
“ Tonooo …….udah……., Bunda mau …..,

Bunda keluar anakku…..”

Mendengar perkataan itu aku pun mempercepat goyang ku.
“Ton…. Enak Ton,,,,,,,… terus Tooon…”

Aku tekan dan aku goyangkan terus, sambil aku menahan agar aku tak keluar. Sengaja aku lakukan agar Bunda Mirna puas dulu baru aku keluar.

“Bunda sangat puas Ton,,,,,….

Terus Ton,,,,,,,. Ahhhhh”
“Aahh huhhhh…. Kamu mau muncrat juga ya sayang ….“

Aku hentikan goyangan ku dan dengan segera aku ganti dengan gerakan naik turun.
“Au …. Ahh… Ton ,,,,, , “
“Ya…. Ton… yang kayak gini, makin nikmat Sayang…..”
“Puas…. Puas…. Aduhh… enak sekali…. Ahhhhhh, yamiiiiii,,,”
“ Yahhhhhhh terus Ton…….”

Gerakan naik turun ku semakin cepat dan batang kontol ku terasa semakin keras dan nafas ku semakin tak teratur.
“AAahhhh, Mahhhh….., ya….. Bunda Sayangg ……, enak sekali mhhhhh….,

Punya Bunda kering ……, Auuu “
“Aduhhhh. .. ”
“Ahhhhh, Bun …. Tono mau muncrat nih Bun. . ….”
“ Muncratkan saja Sayang ”
“ Semburiin aja….,”
“ Semburkan semua !!! ”

Bunda sudah puas sekali….”
“Ayo …. Ayo Anak Manja……”


Segera ku percepat gerakan ku sehingga bunyi yang terdengar semakin berdecak,
“Plokkkk….”
“Cepluuuukkk. . . .pluukk. . . plokkk. . . .”

Agak kutegakkan badan ku mengambil posisi siap untuk menembakkan cairan pejuh dari Batang ku. 

“Tono dapat Bun …., Keluar ahhhhhh Bun,,,,,,,”.
“Ton…. Bunda juga rasakan sayang….,!!!”
“ OUUccchh. . . . …. !!! “
“Keras sekali sayang,,,,,,,, terus Ton. …
“Terusss. . . “
“Puaskan Bunda…Ton. . .!!.”

Semburan pejuhku terasa lumayan banyak sekali dan berulang ulang ngecrit. Tak tahu berapa kali, dan gerakkan ku makin memelan dan akhirnya tubuh ku lemas menimpa tubuh semok bahenol Bunda Mirna.

Aku masih terkapar diatas Bunda Mirna sementara batang kontolku belum ku cabut dan masih ku rasakan remasan dan denyutan dari liang memek Bunda Mirna.

Lalu perlahan aku jatuh kesamping kanan baguan tubuh Bunda Mirna yang sedang terbaring lemas juga, aku masih memejamkan mata dan sambil menikmati permainan yang baru saja selesai.

Bunda Mirna memiringkan badannya menghadapku dan tangan kirinya melingkari dada ku, dan menciumi pipi ku dengan lembut.

“Bunda puas sekali Ton…”
“Terima kasih Ton……,”

Bunda Mirna terus menciumi pipi ku dan aku melirik sambil tersenyum. Kulihat dia sedang menyibak selangkangannya dengan tissue basah yang ada di meja samping tempat tidur, dan setelah selesai Bunda Mirna bangkit duduk mengelap batang kontol ku.